puasa hari apa menurut nu

Halo, selamat datang di hulala.co.id!

Puasa merupakan salah satu ibadah yang penting bagi umat Islam. Pelaksanaannya pun memiliki tata cara dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh ulama, termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang puasa hari apa menurut NU, beserta kelebihan dan kekurangannya.

Pendahuluan

Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah ini memiliki hukum wajib bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat, yaitu baligh, berakal sehat, dan tidak memiliki halangan seperti sakit atau sedang dalam perjalanan jauh.

Dalam Islam, terdapat dua jenis puasa, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa yang termasuk wajib adalah puasa Ramadan, sedangkan yang termasuk sunnah antara lain puasa Senin-Kamis dan puasa Ayyamul Bidh.

Menurut NU, terdapat empat hari yang dianjurkan untuk dilakukan puasa sunnah, yaitu Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu. Keempat hari tersebut memiliki keutamaan masing-masing, seperti: hari Senin adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, hari Selasa adalah hari dibagikannya rezeki, hari Kamis adalah hari diampuninya dosa-dosa, dan hari Sabtu merupakan hari disiksa di alam kubur.

Selain keempat hari tersebut, NU juga menganjurkan untuk melakukan puasa di tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah, yang dikenal sebagai puasa Ayyamul Bidh. Puasa ini memiliki keutamaan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Puasa sunnah memang tidak wajib dilakukan, namun memiliki banyak manfaat spiritual dan kesehatan. Dengan berpuasa, umat Islam dapat melatih disiplin diri, meningkatkan ketakwaan, dan memperoleh pahala dari Allah SWT.

Kelebihan Puasa Hari Apa Menurut NU

Puasa sunnah yang dilakukan pada hari-hari yang dianjurkan oleh NU memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

  • Meningkatkan ketakwaan: Dengan berpuasa, umat Islam dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan ketakwaan dalam beribadah.
  • Menghapus dosa kecil: Menurut hadis Nabi Muhammad SAW, puasa sunnah dapat menghapus dosa-dosa kecil yang telah diperbuat.
  • Melatih disiplin diri: Puasa melatih umat Islam untuk menahan hawa nafsu dan disiplin dalam menjalani kehidupan.
  • Membersihkan hati: Puasa dapat membantu membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati, seperti iri, dengki, dan sombong.
  • Mendapat pahala: Setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, termasuk puasa sunnah, akan memperoleh pahala dari Allah SWT.

Kekurangan Puasa Hari Apa Menurut NU

Meskipun memiliki banyak kelebihan, puasa sunnah yang dilakukan pada hari-hari tertentu juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain:

  • Tidak wajib: Puasa sunnah tidak wajib dilakukan, sehingga tidak berdosa jika ditinggalkan.
  • Dapat melemahkan tubuh: Jika dilakukan secara berlebihan, puasa dapat melemahkan tubuh dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Tidak dianjurkan bagi orang sakit: Orang yang sakit atau memiliki kondisi kesehatan tertentu tidak dianjurkan untuk melakukan puasa.
  • Dapat mengganggu kehamilan dan menyusui: Puasa tidak dianjurkan bagi ibu hamil dan menyusui karena dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayi.

Tabel Puasa Hari Apa Menurut NU

Puasa Hari Apa Menurut NU
Hari Keutamaan
Senin Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW
Selasa Hari dibagikannya rezeki
Kamis Hari diampuninya dosa-dosa
Sabtu Hari disiksa di alam kubur
13, 14, dan 15 Hijriah Puasa Ayyamul Bidh, untuk membersihkan hati

FAQ tentang Puasa Hari Apa Menurut NU

  • Apa saja hari yang dianjurkan untuk puasa sunnah menurut NU?

    Hari Senin, Selasa, Kamis, Sabtu, dan tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.

  • Apa keutamaan puasa sunnah menurut NU?

    Meningkatkan ketakwaan, menghapus dosa kecil, melatih disiplin diri, membersihkan hati, dan mendapat pahala.

  • Apa kekurangan puasa sunnah menurut NU?

    Tidak wajib, dapat melemahkan tubuh, tidak dianjurkan bagi orang sakit, dan dapat mengganggu kehamilan dan menyusui.

  • Apakah puasa sunnah wajib dilakukan?

    Tidak, puasa sunnah tidak wajib dilakukan.

  • Apa hukum meninggalkan puasa sunnah?

    Tidak berdosa.

  • Apakah puasa sunnah lebih utama dari puasa wajib?

    Tidak, puasa wajib lebih utama dari puasa sunnah.

  • Apakah puasa sunnah dapat dilakukan secara berurutan?

    Ya, puasa sunnah dapat dilakukan secara berurutan, asalkan tidak melemahkan tubuh.

  • Apakah puasa sunnah dapat dilakukan bersamaan dengan puasa wajib?

    Ya, puasa sunnah dapat dilakukan bersamaan dengan puasa wajib, asalkan tidak membahayakan kesehatan.

  • Apakah puasa sunnah dapat dilakukan kapan saja?

    Ya, puasa sunnah dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

  • Apakah puasa sunnah dapat membatalkan puasa wajib?

    Tidak, puasa sunnah tidak dapat membatalkan puasa wajib.

  • Apakah ada doa khusus untuk berpuasa sunnah?

    Ya, ada doa khusus untuk berpuasa sunnah, yaitu “Nawaitu shauma ghadin lillahi ta’ala”.

  • Apakah puasa sunnah dapat dilakukan di bulan Ramadan?

    Tidak, puasa sunnah tidak dapat dilakukan di bulan Ramadan karena hukumnya makruh.

Kesimpulan

Puasa sunnah yang dilakukan pada hari-hari yang dianjurkan oleh NU memiliki banyak kelebihan dan manfaat bagi umat Islam. Namun, perlu diingat bahwa puasa sunnah tidak wajib dilakukan dan dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Jika ingin melakukan puasa sunnah, pastikan untuk mempersiapkan diri dengan baik, menjaga kesehatan, dan tidak memaksakan diri. Dengan berpuasa sunnah secara ikhlas dan sesuai dengan ajaran NU, umat Islam dapat meningkatkan ketakwaan, membersihkan hati, dan memperoleh pahala dari Allah SWT.

Mari tingkatkan ibadah kita dengan melaksanakan puasa sunnah pada hari-hari yang dianjurkan, semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan bagi kita semua.

Kata Penutup

Demikianlah artikel tentang puasa hari apa menurut NU. Semoga informasi ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan Anda tentang ibadah puasa dalam Islam. Perlu diingat bahwa artikel ini hanya bersifat informatif dan tidak dapat menggantikan nasihat dari ustadz atau kiai yang lebih ahli di bidangnya. Jika Anda memiliki pertanyaan atau keraguan terkait puasa sunnah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tokoh agama yang terpercaya.